Selasa, 25 Maret 2025

Selaksa Rindu

 Teruntuk Dina, istriku.

Aku mencoba memaknai dirimu di selasar rindu yang tercipta diantara kita. Tiap jengkal waktu yang tercipta kian menyayat meski kian mengisut. Pagiku bersepah, keruntangpukang, terserah-berah, centang-perenang tatkala mata terbuka tanpa rupa adiwarna. Intensi pagi itu tak terbakar karna tersisa sumbu tanpa bara. Aku mencoba memaknai pagi itu di sela waktu aku berangkat pergi tanpa bekal darimu.

Teruntuk Dina, istriku.

Aku mencoba merencah siang yang panasnya terasa kian melambat. Menusuk, merajah, merunjam tiap sela hari aku yang jauh darimu. Meski selama ini selalu begitu. Namun sulit menerima lelahku manakala aku pulang tak mendapati dirimu dibalik pintu. Tak ku cium aroma dapur yang semerbak sampai pintu depan meski memang jaraknya hanya sejengkal. Aku mulai berbaring menatap gelap beristirahat. Aku mencoba memaknai hari itu di sela waktu aku terpejam tanpa peluk hangatmu, wangimu, marahmu, senangmu, dan rindumu.

Teruntuk Dina, istriku.

Aku mencoba mengilhami malam yang dinginnya terkadang mengutuk seisi bumi. Memahami bisu yang berbisik diantara silang-selimpat hati yang gusar gulana di selaksa rindu. kenyataan itu menyayat fatamorgana di setiap malam aku mengingatmu. Seakan ketabahan menjadi pengiring setiap kata yang terucap lewat gawai antara aku, kamu dan jarak yang semakin tidak menentu. 

Aku berkata pada diriku, aku harus kembali pada diriku. Diriku yang sudah menjadi bagian darimu. Yang tak terpisah jarak dan waktu. Aku harus kembali pada dirimu, yang sudah menjadi bagian dari diriku. Yang hanya terbatas rindu antara pergi dan pulangku. Bukan pagi dan malamku. 

Teruntuk istriku, Dina.

Jangan lelah menunggu, aku pasti pulang padamu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar