Teruntuk Dina, istriku.
Aku mencoba memaknai dirimu di selasar rindu yang tercipta diantara kita. Tiap jengkal waktu yang tercipta kian menyayat meski kian mengisut. Pagiku bersepah, keruntangpukang, terserah-berah, centang-perenang tatkala mata terbuka tanpa rupa adiwarna. Intensi pagi itu tak terbakar karna tersisa sumbu tanpa bara. Aku mencoba memaknai pagi itu di sela waktu aku berangkat pergi tanpa bekal darimu.